Aku, perempuan yang tulus
mencintaimu. Menerima segala kekurangan dan kelebihanmu. Tidak pernah
sedikitpun memiliki keinginan untuk menyakitimu. Hidupku ku dedikasikan untuk
membuatmu bahagia, karena senyummu bagian dari kepuasan hatiku. Apalagi jika ku
tahu alasanmu tersenyum karenaku, aku tidak bisa menuliskan sebagaimana
bahagianya aku.
Semua kesalahanmu tidak ada artinya
bagiku, kau selalu benar bagiku. Semua khilafmu dengan mudah ku maafkan, ku
hilangkan. Pintu maafku ku buka lebar, tanpa kau meminta maaf pun aku sudah
terlebih dulu memaafkan kesalahanmu.
Aku perempuan biasa yang ingin
belajar mencintai dengan hati, tanpa mengharapkan balasan yang lebih. Bukankah itu
arti dari mencintai? Ya, sebodoh itu aku mencintaimu.
Bahkan kau mungkin sudah ribuan
kali membuat kesalahan, tapi aku pun juga sudah berjuta kali memaafkanmu,
memberimu kesempatan untuk memperbaikinya. Kau tahu hal itu? Pasti jawabannya
tidak.
Kamu, seenakmu sendiri bertingkah
di luar sana, apa telingamu pernah mendengarkan aku? Apa matamu masih bisa
melihat aku? Apa aku masih berjalan di pikiranmu?? Masih atau kau menganggap
aku akan selalu memaafkanmu dan semuanya kembali normal? Terus-menerus, sampai
kapan?
Kau salah, aku sudah menyerah
mencintaimu. Tidak peduli mereka menganggapku lemah, mudah menyerah, atau
apapunlah yang jelas aku sudah muak dengan semua ini. Setiap manusia punya
batas kesabaran, mungkin ini batas kesabaranku untukmu. Untuk seorang pria
payah sepertimu, yang selalu menyia-nyiakan kesempatan yang ku berikan, yang
selalu bertindak sesuka hatimu tanpa memikirkan aku sebagai wanitamu.
Maaf sayang, kali ini tidak ada lagi kesempatan untukmu, tidak ada lagi maaf, tidak ada lagi aku untukmu. Aku menyerah..

