Kau datang dengan sebuah harapan
baru untukku, awalnya aku takut untuk memulai ini lagi. Karena aku tahu apa
akhir dari cerita ini. Aku mulai menata kembali kepingan-kepingan yang sudah
hancur, aku mulai menyusunnya bersamamu. Kau mampu sedikit demi sedikit
mengobati segala kecewa yang pernah kudapatkan. Kau mampu meniup pergi awan
jahat yang pernah singgah di hatiku. Kau, kau, kau, segalanya tentang kau. Hingga
pada akhirnya kau benar-benar melukiskan pelangi di hatiku, semua warna kini
ada, bukan hanya hitam dan putih saja.
Tersenyum, aku mulai bisa menarik
bibirku ke atas. Karenamu, bersamamu. Dari senyum itu berkembang menjadi tawa
kecil, karena kau selalu menyegarkan hari-hariku. Sampai akhirnya aku bisa
tertawa begitu lepas. Berkat engkau..
Jujur, aku mulai menaruh harapan
lebih kepadamu. Aku ingin engkau yang terus-menerus membuatku tertawa, aku
ingin menuliskan lembaran hidup yang baru bersamamu. Aku ingin menuliskan
namamu di setiap halaman hidupku yang baru. Bersama dirimu.
Namun mungkin aku salah
mengartikan setiap perlakuanmu kepadaku. Aku terlalu larut kedalam perhatian-perhatianmu,
tanpa aku sadari jika kau hanya menganggapku sebagai seorang sahabat dekat. Seorang
sahabat yang tidak ingin melihat sahabat yang disayanginya terluka terlalu
dalam. Ya hanya sahabat.
Lalu kemana akan ku larikan
perasaan sayang yang telah berevolusi menjadi cinta ini? Haruskah ku telan
kembali? Haruskah aku menghancurkan semua hati yang telah ku susun rapi untukmu
ini? Haruskah aku merubah pelangi menjadi awan mendung? Atau haruskah aku tidak
peduli pada status kita dan diam-diam mencintaimu?
Ini Menyakitkan.
0 komentar:
Posting Komentar