Setitik demi setitik air langit
mulai berjatuhan, tidak seberapa basah namun aku bisa merasakan kelembapannya.
Aku mendongak ke atas, mengingatmu, bertanya dalam hatiku apakah kau masih
merasakan itu? Sebuah perasaan yang hanya kita berdua yang bisa merasakan,
rindu dan berbicara pada hujan untuk saling menyampaikan pesan, apakah masih
sama seperti dulu? Ataukah kau sedang menikmati hujan bersama seseorang yang
bisa membuatmu tertawa? Siapakah dia?
Ahh sudahlah, tidak ada gunanya
lagi mengkhayal tentang dirimu. Sebab kita tidak lagi ada di dalam lingkaran
yang sama. Sejujurnya aku tidak bisa mengelabuhi hati kecilku, dia tahu betul
jika aku masih merindukanmu, mungkin bukan masih tapi selalu. Ya, aku selalu
merindukanmu dan mungkin akan selalu merindukanmu. Aku tidak bisa begitu saja
menghapus memori-memori manis bersamamu. Sebanyak apapun aku mencoba, dan
hasilnya adalah aku semakin kuat merindukanmu.
Banyak yang berkata jika aku
mencintai orang yang salah, ya terkadang aku berpikir demikian. Lalu aku
menyesali semuanya dan mengutuk diriku sendiri betapa bodohnya aku. Setelah
puas menyesal, aku kembali mengingatmu, merindukanmu, dan menginginkan kau
kembali.
Mungkin aku hanya merasa kesepian
semenjak kamu pergi dan tidak kembali ke lingkaran ini. Pernah aku mencoba
untuk membuat lingkaran baru, tapi rasanya tidak sama, aku malah membuat dosa
karena membandingkan dia dengan kamu. Ya, selalu kamu. Karena kamu yang terbaik
“menurutku”. Ya meskipun aku tahu semua yang aku lakukan akan sia-sia.
0 komentar:
Posting Komentar